The journey of the soul in the Qur’ān and the ḥadīth
From the covenant to eternity: the stages of the soul’s journey as the Qur’ān and the ḥadīth give them, with each source listed.
Ditulis oleh AI · menunggu tinjauan ulama
Kata-kata artikel ini ditulis oleh AI dari pustaka Sabīl dan sumber-sumbernya, dan diperiksa oleh AI terhadap keduanya. Belum ada ulama yang meninjaunya. Teks Arab, artinya dan sumbernya adalah milik pustaka dan Al-Qur’an sendiri, ditampilkan persis sebagaimana adanya di sana. Untuk fatwa atas keadaan Anda sendiri, tanyakan kepada ulama yang berkompeten.
Artikel ini belum ditulis dalam bahasa ini. Artikel ditampilkan dalam bahasa Inggris.
Diterbitkan 21 Oktober 202644 menit baca
This page is for a reader who wants the whole journey in one place: where a person comes from, what happens at death and in the grave, the Day of Resurrection, and the final abodes. It follows the order in which the Qur’ān and the ḥadīth describe the stages. Every verse is shown below with Tanzil’s Arabic and its meaning in the edition the app uses, and every narration is named by its collection and number in the list at the end, so that you can open it yourself. Under some verses the page also shows the notes of that edition; they are the edition’s words, not this page’s, and this page has not checked them. This page is written and checked by AI and no scholar has reviewed it. It gives no ruling and no verdict on any person; for your own circumstances, ask a scholar. A way to send a correction is to follow.
Before this life
The sources speak of what Allah ordained before creation. A narration in Ṣaḥīḥ Muslim says that Allah ordained the measures of the creation fifty thousand years before He created the heavens and the earth (Ṣaḥīḥ Muslim 2653b). The verses on being tested, below, say that life and death were created to test which of you is best in deeds.
The Qur’ān also speaks of a covenant, in which the descendants of Adam were made to testify about themselves.
172. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
The edition’s note on this verse calls it the pledge of innate nature. This page adds nothing to the verse and the note about how the testimony was given. The verse gives its own reason: so that people should not say on the Day of Resurrection that they were unaware of this.
On the spirit (rūḥ), the Qur’ān says that people ask about it, and gives the answer.
85. Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”
The verse’s answer is that the spirit is of the affair of the Lord, and that people have been given only a little knowledge. This page says nothing more of what the spirit is.
The womb
The Qur’ān describes stages in the creation of the human being.
12. Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
13. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.
A narration of Ibn Masʿūd, reported by al-Bukhārī and Muslim, says that the creation of each of you is gathered in the mother’s womb for forty days, then becomes a clot for a like period, then a lump of flesh for a like period; then an angel is sent and is ordered to write four things: the person’s provision, lifespan, deeds, and whether they will be wretched or blessed. In al-Bukhārī’s narration the spirit is breathed into the person after this (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 3208; Ṣaḥīḥ Muslim 2643a). The same narration warns that a person may do the deeds of the people of one abode until there is only a cubit between them and it, and then what was written overtakes them.
Birth, and the *fiṭrah*
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.[639] Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
[639]. Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar.
The edition’s note explains the word fiṭrah as the natural inclination to worship one’s Lord. A narration in Ṣaḥīḥ al-Bukhārī says that every child is born on the fiṭrah, and that his parents then turn him from it (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 1358).
The Qur’ān says that no one bears another’s burden, and that Allah does not punish until He has sent a messenger.
15. Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat, maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.
This page does not say how the verse applies to a particular child who died young, or to a particular person the message never reached; for that, ask a scholar. The Qur’ān says that no soul will be wronged on the Day (21:47, below).
This life: a test, and a record
2. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.
56. Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
The Qur’ān says that every person has angels watching and recording, and that not a word is uttered without a watcher present.
17. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat amal (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.
18. Tidak ada suatu kata yang diucapkan pun melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).
10. Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
11. Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanm),
12. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
On repentance, 39:53 says not to despair of Allah’s mercy, for Allah forgives all sins, and 4:18 says that repentance is not for those who commit evil deeds until death approaches one of them and he then says “Now I repent”, nor for those who die as disbelievers.
53. Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[756] semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[756]. Lihat An-Nisā’ 4: 48 (kecuali dosa syirik).
18. Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.
A narration in Jāmiʿ al-Tirmidhī says that Allah accepts the servant’s repentance until the soul reaches the throat; al-Tirmidhī calls it ḥasan gharīb (Jāmiʿ al-Tirmidhī 3537). The edition’s note on 39:53 says that the only unforgivable sin is dying in disbelief in Allah or associating others with Him, and refers to 4:48, which says that Allah does not forgive associating partners with Him and forgives anything less than that for whom He wills.
48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.
On deeds and mercy, a verse reports what the angels say to those whose souls they take in a state of purity.
32. (yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik,[451] mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salāmun 'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.”
[451]. Wafat dalam keadaan suci dari kekafiran dan kemaksiatan, atau dapat juga berarti mereka mati dalam keadaan senang karena ada berita gembira dari malaikat bahwa mereka akan masuk surga.
A narration says that none enters Paradise by his deeds alone, and when the Prophet ﷺ was asked whether this included him, he said that it did, unless Allah covered him with His mercy (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 5673; Ṣaḥīḥ Muslim 2816a). Both are in the sources, and this page does not reconcile them.
Death
11. Katakanlah, "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan.”
61. Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya dan mereka tidak melalaikan tugasnya.
The verses on the moment of death say that Allah does not delay a soul when its appointed time comes, and that the one who regrets asks to be sent back and is told “No”.
11. Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematian telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
99. (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),
100. agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh[557] sampai pada hari mereka dibangkitkan.
[557]. Barzakh yaitu tempat atau keadaan orang setelah mati sampai dia dibangkitkan pada hari Kiamat.
The edition’s note on 23:100 says that once they die there is no chance of returning to the world, and that they remain in that state until the Day of Resurrection. The word the edition translates as “barrier” is barzakh, which is where the next section begins.
The *barzakh* and the grave
Verse 23:100, above, speaks of a barrier until the Day they are raised. The Qur’ān also says that Allah keeps the believers steadfast in this world and in the Hereafter.
27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh[429] (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
[429]. Yang dimaksud ucapan-ucapan yang teguh di sini ialah kalimah Ṭayyibah yang disebut dalam ayat 24 di atas.
A narration in Ṣaḥīḥ al-Bukhārī says that the believer made to sit in his grave testifies, and that this is what the verse speaks of; a further line in it says that the verse was revealed concerning the punishment of the grave (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 1369). Another says that the deceased is asked about the Prophet ﷺ, and that the believer testifies that he is Allah’s servant and messenger, while the hypocrite or the non-believer says that he does not know (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 1374).
The Sabīl library gives a supplication for refuge from four things, among them the punishment of Hell and of the grave, and says the Prophet ﷺ commanded it when one finishes the last tashahhud; the library cites this to Muslim.
Terjemahan draf: dibuat oleh mesin dari teks Arab dan Inggris, dan belum dibaca oleh ulama maupun editor penutur asli. Bila ada baris yang kurang jelas, tampilkan teks Inggrisnya dan berpeganglah pada teks Arab.
Baris yang berkaitan dengan suatu hukum selalu ditampilkan bersama teks Inggris cetakan di bawahnya. Baris yang drafnya tidak lolos pemeriksaan hanya ditampilkan dalam bahasa Inggris.
For those killed in Allah’s way the Qur’ān says this.
169. Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki.[162]
[162]. Hidup di alam yang lain bukan alam kita ini. Mereka mendapatkan berbagai kenikmatan di sisi Allah. Dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana kehidupan di alam lain itu.
A narration in Ṣaḥīḥ Muslim says that when a person dies their deeds come to an end except for three: ongoing charity, knowledge by which people benefit, and a righteous child who prays for them (Ṣaḥīḥ Muslim 1631). The library’s Janāzah cards say what to do from the last breath to the filling of the grave.
The Hour and the Trumpet
The Qur’ān says the Trumpet will be blown, and that the earth and the heavens will be changed.
68. Dan sangkakala pun ditiup maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu), maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).
48. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.
A narration of Abū Hurayrah says that between the two blowings of the Trumpet there will be forty, and that when he was asked whether it meant days, months or years he declined to say (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4814). The same narration says that everything of the human body decays except the tailbone, and that from it the whole body will be put together again. A narration of Ḥudhayfah ibn Asīd lists the signs that come before the Hour, among them the smoke, the Dajjāl, the beast, the sun rising from the west, the descent of ʿĪsā the son of Maryam, and Gog and Magog (Ṣaḥīḥ Muslim 2901a). This page does not describe them further.
Resurrection and gathering
The Qur’ān answers those who doubt that bones can be gathered by saying that Allah is able to reassemble them, down to the fingertips.
3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
5. Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.
A narration in Ṣaḥīḥ Muslim says that people will be gathered barefoot, naked and uncircumcised; when ʿĀʾishah asked whether men and women would look at one another, the Prophet ﷺ answered that the matter will be too serious for them to do so (Ṣaḥīḥ Muslim 2859a). A narration says that on that Day the sun is brought close to the creation, to a distance of a mile (Ṣaḥīḥ Muslim 2864), and another that seven will be in Allah’s shade on the day when there is no shade but His (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 660; Ṣaḥīḥ Muslim 1031a).
47. Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.
6. (Yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.
Intercession
A long narration reports that the people, in their distress, seek someone to intercede for them with their Lord. They go to Ādam and the other prophets in turn and are sent on, until they come to Muḥammad ﷺ, who prostrates before his Lord and is told to ask and to intercede, and that his intercession will be accepted (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4712; Ṣaḥīḥ Muslim 193a). The Qur’ān says that no intercession is of any use without Allah’s permission.
255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya[96] meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.
[96]. Yaitu tempat kedua Kaki Allah Jalla Jalāluhu, dan tidak ada yang mengetahui kaifiyatnya (bagaimananya) selain Allah Subhānahu wata'āla.
109. Pada hari itu tidak berguna syafaat (pertolongan), kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan Dia ridai perkataannya.
26. Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai.
The reckoning
The Qur’ān speaks of a record, which each person will find spread open.
13. Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.
14. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”
Some will be given the record in the right hand and some in the left, or from behind the back.
19. Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, "Ambillah, bacalah kitabku (ini)![861]
[861]. Catatan amal perbuatan.
25. Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, "Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.
7. Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya,
10. Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang,
There will be witnesses against a person: their own limbs and senses.
65. Pada hari ini Kami tutup muLuṭ mereka; dan tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.
20. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.
And the deeds are weighed.
47. Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.
8. Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung,
9. dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.
6. Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
8. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
7. Maka barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat żarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
A narration says that the first of a servant’s deeds to be called to account is the prayer; al-Tirmidhī calls it ḥasan gharīb, and later graders differ on it (Jāmiʿ al-Tirmidhī 413). Another says that the first cases to be decided among people are those of bloodshed (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6533; Ṣaḥīḥ Muslim 1678a). A narration in Ṣaḥīḥ Muslim describes the person who comes with prayer, fasting and charity but has abused, slandered or wronged others; their good deeds are given to those they wronged, and if these run out, the sins of those wronged are put on them (Ṣaḥīḥ Muslim 2581).
The bridge
71. Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan.
72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berLuṭut.
The edition’s note on 19:71 says that the verse refers to the bridge called the ṣirāṭ, over Hell. A long narration describes it: some will escape and be safe, some will be lacerated and let go, and some will be pushed into the Fire, while the messengers call out for safety (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6573; Ṣaḥīḥ Muslim 183a). A narration says that the believers, once saved from the Fire, are stopped at a bridge between Paradise and Hell, where what remains between them is settled, and that when they are cleansed they are admitted to Paradise (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6535). The Qur’ān speaks of the light of the believers.
12. Pada hari engkau akan melihat orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang agung.”
Who enters Paradise and who enters Hell
The Qur’ān sets out the two outcomes in these verses.
6. Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.
7. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
A narration says that Allah will order those who had faith equal to the weight of a grain of mustard seed to be taken out of the Fire (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 22), and another speaks of those who used to testify that none has the right to be worshipped but Allah being brought out (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6573). Verse 39:53, on Allah’s mercy, is shown above. This page gives no verdict on any person.
Paradise
17. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.
72. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga `Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.
26. Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
22. Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
23. Memandang Tuhannya.
A narration in al-Bukhārī and Muslim quotes Allah as saying that He has prepared for His righteous servants what no eye has seen, no ear has heard, and no heart has imagined (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 3244; Ṣaḥīḥ Muslim 2824a). The edition’s note on 10:26 says that “the best reward and more” is Paradise and the seeing of Allah. Narrations say that the believers will see their Lord as they see the full moon (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 554; Ṣaḥīḥ Muslim 633a).
Hell
56. Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
145. Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka,
A narration says that the fire of this world is one part of seventy parts of the fire of Hell (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 3265; Ṣaḥīḥ Muslim 2843a), and another that the one with the lightest punishment has two embers placed under his feet, so that his brain boils (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6562; Ṣaḥīḥ Muslim 213a; in a variant, two shoes of fire, Ṣaḥīḥ Muslim 213b). The verse on the hypocrites speaks of the lowest depths of the Fire. This page does not describe Hell further.
After judgment
A narration says that death will be brought in the form of a ram and slaughtered, and that it will then be said to the people of both: eternity, and no death (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4730; Ṣaḥīḥ Muslim 2849a). Verses 98:6 and 98:8, above, speak of staying forever in the Fire and in the Gardens of Eternity, and this page says no more than they do.
References
Verses of the Qur’ān, by sūrah and verse, all shown above: 2:255; 3:169; 4:18; 4:48; 4:56; 4:145; 6:61; 7:8–9; 7:172; 9:72; 10:26; 14:27; 14:48; 16:32; 17:13–15; 17:85; 18:47; 19:71–72; 20:109; 21:47; 22:5; 23:12–14; 23:99–100; 30:30; 32:11; 32:17; 36:65; 39:53; 39:68; 41:20; 50:17–18; 51:56; 53:26; 57:12; 63:11; 67:2; 69:19; 69:25; 75:3–4; 75:22–23; 82:10–12; 83:6; 84:7; 84:10; 98:6–8; 99:7–8; 101:6; 101:8.
Narrations, by collection and number as sunnah.com numbers them: al-Bukhārī by the numbering of Fatḥ al-Bārī; Muslim by Muḥammad Fuʾād ʿAbd al-Bāqī’s numbers, with the letter sunnah.com adds where it divides one; al-Tirmidhī by sunnah.com’s numbering of the Jāmiʿ.
- Before life and the womb: Ṣaḥīḥ Muslim 2653b; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 3208; Ṣaḥīḥ Muslim 2643a; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 1358.
- Repentance, deeds and mercy: Jāmiʿ al-Tirmidhī 3537; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 5673; Ṣaḥīḥ Muslim 2816a.
- The grave: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 1369; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 1374; Ṣaḥīḥ Muslim 1631.
- The Hour, resurrection and gathering: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4814; Ṣaḥīḥ Muslim 2901a; Ṣaḥīḥ Muslim 2859a; Ṣaḥīḥ Muslim 2864; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 660; Ṣaḥīḥ Muslim 1031a.
- Intercession and the reckoning: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4712; Ṣaḥīḥ Muslim 193a; Jāmiʿ al-Tirmidhī 413; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6533; Ṣaḥīḥ Muslim 1678a; Ṣaḥīḥ Muslim 2581.
- The bridge and the two abodes: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6573; Ṣaḥīḥ Muslim 183a; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6535; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 22; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 3244; Ṣaḥīḥ Muslim 2824a; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 554; Ṣaḥīḥ Muslim 633a; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 3265; Ṣaḥīḥ Muslim 2843a; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6562; Ṣaḥīḥ Muslim 213a; Ṣaḥīḥ Muslim 213b; Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4730; Ṣaḥīḥ Muslim 2849a.
From the Sabīl library: the supplication for refuge from four things, in Adhkār of the Prayers; and Janāzah, linked, not quoted.
Where to go next
- The Qur’ān has every verse above in its sūrah, with its meanings.
- Īmān and belief in the Qur’ān and the Sabīl library gathers verses on what is believed, among them the Last Day.
- Janāzah is the library’s title on what is done at a death and at the grave.
Kotak surat untuk Sabīl sedang disiapkan. Artikel ini akan memberikan cara mengirim koreksi atau komentar segera setelah ada orang yang membacanya.