Al-Maaida
Voici une traduction du tafsîr d’as-Saʿdī, telle qu’IslamHouse.com la publie sur saadi.islamenc.com, lue dans les pages de ce site. Le site ne dit ni qui l’a traduite ni quelle édition imprimée elle suit, et n’indique aucune condition pour en reprendre le texte, si bien que le droit de la montrer n’est pas vérifié. Personne ne l’a comparée à un livre imprimé, et aucun savant ne l’a relue. Chaque passage se tient à côté des versets qu’il commente, qui sont le texte coranique de Tanzil, montré tel qu’il y est ; un verset auquel le site ne donne aucun commentaire propre se tient avec le passage qui le précède, et l’index nomme chacun de ces versets. Sabīl n’en a rien écrit ni traduit.
Texte desaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)pris le 2026-10-22
قُل لَّا يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ ۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 100
(100) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada manusia dalam rangka memberikan mereka semangat kepada kebaikan dan memperingat-kan mereka dari keburukan. ﴾ لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ ﴿ "Tidak sama yang buruk dengan yang baik," dalam segala hal. Iman dengan kekufuran tidaklah sama, ketaatan dengan kemaksiatan tidaklah sama, penduduk surga dengan peng-huni neraka tidaklah sama, perbuatan yang baik dengan perbuatan buruk tidaklah sama, harta yang haram dengan harta yang halal tidaklah sama. ﴾ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ ﴿ "Meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu," karena yang buruk itu tidak berguna sedikit pun bagi pemiliknya, justru membahayakan agama dan dunianya. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." Allah memerintahkan orang-orang yang berakal sempurna dan yang memiliki pandangan yang lurus. Allah mengarahkan pem-bicaraan kepada mereka. Mereka itulah yang diperhatikan dan diharapkan menjadi baik. Kemudian Allah memberitakan bahwa keberuntungan bergantung kepada takwa yang merupakan ketaatan kepadaNya pada perintah dan laranganNya. Barangsiapa bertakwa kepadaNya, maka dia beruntung total. Barangsiapa membuang takwa, maka dia akan merugi dan tidak beruntung.