Al-Hujuraat
Voici une traduction du tafsîr d’as-Saʿdī, telle qu’IslamHouse.com la publie sur saadi.islamenc.com, lue dans les pages de ce site. Le site ne dit ni qui l’a traduite ni quelle édition imprimée elle suit, et n’indique aucune condition pour en reprendre le texte, si bien que le droit de la montrer n’est pas vérifié. Personne ne l’a comparée à un livre imprimé, et aucun savant ne l’a relue. Chaque passage se tient à côté des versets qu’il commente, qui sont le texte coranique de Tanzil, montré tel qu’il y est ; un verset auquel le site ne donne aucun commentaire propre se tient avec le passage qui le précède, et l’index nomme chacun de ces versets. Sabīl n’en a rien écrit ni traduit.
Texte desaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)pris le 2026-10-22
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 1
Ayat ini mencakup etika terhadap Allah سبحانه وتعالى dan terhadap Rasulullah a serta mengagungkan, menghormati, dan memulia-kannya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman sesuai dengan tuntutan keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi larangan-Nya serta harus berjalan di belakang perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى dan mengikuti sunnah Rasulullah a dalam semua hal, agar tidak mendahului Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, tidak mengatakan sesuatu pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a menyatakan, dan tidak me-merintah apa pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a memerintah. Inilah hakikat etika wajib terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dan itulah alamat kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Jika etika tersebut tidak dimiliki oleh seorang hamba, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal. Da-lam hal ini terdapat larangan keras untuk mendahului perkataan Rasulullah a sebelum beliau mengucapkan. Manakala Sunnah Rasulullah a telah jelas, maka ia wajib diikuti dan harus didahulu-kan atas yang lainnya, tidak peduli siapa pun orangnya.
(1) Allah تعالى memerintahkan untuk takwa secara umum, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq bin Habib yang berkata, "Takwa itu adalah bahwa Anda mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas dasar cahaya dari Allah di mana Anda hanya berharap pahala balasan Allah, dan bahwa Anda meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah di mana Anda takut kepada azabNya. Dan Firman Allah ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Men-dengar ," yakni, semua jenis suara dan dalam semua waktu sekali-pun dalam tempat dan arah yang sama. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Mengeta-hui," yakni apa-apa yang zahir dan apa-apa yang bersifat batin, yang telah berlalu maupun yang akan datang, yang wajib secara aqli dan juga yang mustahil dan mubah secara aqli. Dalam penyebutan dua nama Allah yang mulia ini setelah didahului dengan larangan mendahului Allah dan RasulNya, kemudian perintah untuk bertakwa kepadaNya, Allah mendorong untuk melaksanakan perintah-perintah yang baik tersebut dan juga adab-adab yang bagus, serta ancaman dari lawannya.