Aller au contenu
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Fussilat
Sourate 41

Fussilat

Voici une traduction du tafsîr d’as-Saʿdī, telle qu’IslamHouse.com la publie sur saadi.islamenc.com, lue dans les pages de ce site. Le site ne dit ni qui l’a traduite ni quelle édition imprimée elle suit, et n’indique aucune condition pour en reprendre le texte, si bien que le droit de la montrer n’est pas vérifié. Personne ne l’a comparée à un livre imprimé, et aucun savant ne l’a relue. Chaque passage se tient à côté des versets qu’il commente, qui sont le texte coranique de Tanzil, montré tel qu’il y est ; un verset auquel le site ne donne aucun commentaire propre se tient avec le passage qui le précède, et l’index nomme chacun de ces versets. Sabīl n’en a rien écrit ni traduit.

Texte desaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)pris le 2026-10-22

Versets 6–7

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ فَٱسْتَقِيمُوٓا۟ إِلَيْهِ وَٱسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم بِٱلْـَٔاخِرَةِ هُمْ كَـٰفِرُونَ 7

(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.