Yusuf
Voici une traduction du tafsîr d’as-Saʿdī, telle qu’IslamHouse.com la publie sur saadi.islamenc.com, lue dans les pages de ce site. Le site ne dit ni qui l’a traduite ni quelle édition imprimée elle suit, et n’indique aucune condition pour en reprendre le texte, si bien que le droit de la montrer n’est pas vérifié. Personne ne l’a comparée à un livre imprimé, et aucun savant ne l’a relue. Chaque passage se tient à côté des versets qu’il commente, qui sont le texte coranique de Tanzil, montré tel qu’il y est ; un verset auquel le site ne donne aucun commentaire propre se tient avec le passage qui le précède, et l’index nomme chacun de ces versets. Sabīl n’en a rien écrit ni traduit.
Texte desaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)pris le 2026-10-22
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَـٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَـٰجِدِينَ 4
Ketahuilah bahwasanya Allah menyebutkan bahwa Dia men-ceritakan kisah terbaik dalam al-Qur`an kepada RasulNya. Kemu-dian, Dia menyampaikan kisah ini dan memaparkannya disertai uraian peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Sehingga bisa dimengerti bahwa kisah itu merupakan kisah yang sempurna, leng-kap lagi baik. Maka barangsiapa yang ingin menyempurnakannya atau membaguskannya dengan riwayat-riwayat Israiliyat yang tidak jelas sanad atau perawinya, yang pada umumnya merupakan kedus-taan, berarti ia telah berupaya mengetengahkan koreksian terhadap Allah, ia ingin menyempurnakan suatu bagian darinya yang dia klaim memiliki kekurangan. Cukuplah buat Anda untuk berhenti pada batas ini sebagai suatu kejelekan, karena tambahan-tambahan pada detail cerita surat tersebut telah menyesaki kitab-kitab tafsir, berupa kedustaan-kedustaan dan perkara-perkara menjijikkan yang banyak bertentangan dengan sesuatu yang difirmankan Allah تعالى. Maka kewajiban seorang hamba adalah untuk memahami apa yang telah diceritakan oleh Allah dan menyingkirkan penjelasan lainnya, yang bukan berupa nukilan yang berasal dari Nabi.
(4) Firman Allah تعالى, ﴾ إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ ﴿ "(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya", Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil k, ﴾ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ ﴿ "Wahai ayahku, sesung-guhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku melihat semuanya sujud kepadaku", mimpi inilah yang menjadi permulaan ketinggian martabat yang direngkuh Nabi Yusuf di du-nia dan akhirat. Demikianlah, jika Allah menghendaki sesuatu yang luar biasa, maka Dia akan memberikan peristiwa pendahuluan sebagai sinyal pembuka dan untuk memuluskan prosesnya, serta sebagai tindakan antisipasi terhadap kesulitan-kesulitan yang akan menghadang hambaNya itu serta sebagai bentuk kelembutan dan kebaikan Allah padanya. Ya'qub menakwilkannya dengan penjela-san bahwa matahari adalah ibunya, bulan berarti ayahnya. Sedang-kan bintang-bintang merupakan (cerminan) saudara-saudaranya. Berbagai fase kehidupan akan melewatinya, hingga berujung pada momentum saudara-saudaranya tunduk dan bersujud kepadanya, sebagai cerminan penghormatan dan pengagungan kepadanya. Peristiwa itu tidaklah terjadi melainkan dengan beberapa faktor pendahulu, berupa ketentuan seleksi dan pilihan dari Allah yang jatuh padanya (untuk menjadi Nabi), penyempurnaan nikmatNya baginya dengan ilmu, amal dan kekuasaan di dunia. Karunia itu akan menaungi semua anggota keluarga Ya'qub yang nantinya akan bersujud kepadanya dan menjadi pengikutnya.