پرش به محتوا
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Baqara
سورهٔ ۲

Al-Baqara

این ترجمهٔ تفسیر سعدی است، همان‌گونه که IslamHouse.com آن را در saadi.islamenc.com منتشر می‌کند و از صفحه‌های آن سایت گرفته شده است. سایت نمی‌گوید چه کسی آن را ترجمه کرده و از کدام چاپ پیروی می‌کند، و برای برداشتن متن آن شرطی بیان نمی‌کند، پس حق نمایش آن تأیید نشده است. کسی آن را با کتاب چاپی مقایسه نکرده و عالمی آن را بررسی نکرده است. هر بخش در کنار آیه‌هایی آمده که دربارهٔ آن‌ها توضیح می‌دهد و این آیه‌ها متن قرآن از Tanzil است، همان‌گونه که آنجا هست؛ آیه‌ای که سایت توضیح جداگانه‌ای برایش نمی‌دهد با بخش پیش از خود می‌آید، و فهرست هر چنین آیه‌ای را نام می‌برد. سبیل چیزی از آن را ننوشته و ترجمه نکرده است.

متن ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)برداشته‌شده در 2026-10-22

آیهٔ ۲۵

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوا۟ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَآ أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ ۲۵

(25) Setelah Allah menyebutkan tentang balasan orang-orang kafir, Dia menyebutkan juga balasan orang-orang beriman yang selalu mengerjakan amal-amal shalih. Ini adalah suatu metode Allah dalam kitabNya, yaitu Dia menyatukan antara harapan dan ancaman, agar seorang hamba optimis, mengharap, khawatir dan takut, lalu Allah berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ﴿ "Dan sampaikanlah berita gembira," yakni, wahai Rasul dan siapa pun yang berada dalam posisimu (sebagai penyeru), ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "kepada mereka yang beriman" dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan berbuat baik" dengan anggota tubuh mereka, maka mereka membenarkan (baca: membuktikan benarnya) keimanan mereka dengan tindakan nyata dari perbuatan-perbuatan baik mereka. Perbuatan-perbuatan baik disifati dengan kata shalih karena dengan perbuatan-perbuatan itu akan memper-baiki keadaan seorang hamba, memperbaiki perkara agama dan dunianya, dan penghidupan dunia maupun akhiratnya, serta menghilangkan kerusakan dirinya, yang pada akhirnya ia menjadi golongan orang-orang yang shalih lagi baik, karena berdekatan dengan ar-Rahman dalam surgaNya. Maka berikanlah mereka kabar gembira, ﴾ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ ﴿ "bahwa bagi mereka disediakan surga-surga," yakni kebun-kebun yang meliputi pohon-pohon yang indah, buah-buahan yang menggiurkan, naungan yang sejuk, dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang rimbun. Dengan itu semua, jadilah ia sebagai taman-taman yang di-nikmati oleh orang yang masuk ke dalamnya dan dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "yang mengalir sungai-sungai di bawahnya," yakni sungai-sungai air, susu, madu dan khamar, di mana mereka mengalirkannya bagaimana-pun cara yang mereka kehendaki dan mengalirkannya kemana pun mereka inginkan, dan darinya pohon-pohon itu disiram, hingga tumbuhlah buah-buahan yang bermacam-macam. ﴾ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ ﴿ "Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu'." Maksudnya buah-buahan ini sama dari sisi jenis dan sifatnya, semuanya sama rata dalam kelezatan dan keung-gulannya, tidak ada buah-buahan yang busuk, dan mereka tidak memiliki waktu yang kosong dari kenikmatan, mereka selalu berada dalam kenikmatan dengan buah-buahannya. Dan FirmanNya, ﴾ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ ﴿ "Mereka diberi buah-buahan yang serupa," menurut suatu pendapat, serupa dalam namanya namun berbeda dalam rasanya. Ada juga yang berpendapat, serupa dalam warnanya namun berbeda dalam namanya. Ada juga yang berpen-dapat, sebagian serupa dengan sebagiannya lagi dalam keunggulan, kelezatan, dan kenik-matannya, dan yang terakhir ini mungkin pendapat yang terbaik.[5] Kemudian, setelah Allah menyebutkan tentang kediaman mereka, makanan mereka dari makanan dan minuman, dan buah-buahan mereka, Allah menyebutkan pula istri-istri mereka, lalu Dia menjelaskan tentang sifat mereka dengan sifat yang paling ideal, Dia meringkasnya dan membahasnya seraya berfirman,﴾ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ ﴿ "Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci," dan Allah tidak mengatakan suci dari satu aib saja, demi mencakup segala macam kesucian, mereka itu suci akhlaknya, suci tubuhnya, suci lisannya, suci penglihatannya, akhlak-akhlak mereka penuh cinta yang disukai oleh suami-suami mereka dengan akhlak yang baik, berhias diri yang paling indah dan bertata krama, baik lisan maupun perbuatan, juga suci tubuh mereka dari haid, nifas, mani, air seni, kotoran, lendir hidung, air ludah dan bau yang tidak sedap, dan juga suci penampilan mereka dengan kesempurnaan kecan-tikan, di mana tidak ada aib sama sekali pada diri mereka, tidak pula buruk rupa, akan tetapi mereka itu baik-baik lagi cantik-cantik, suci lisan dan pandangan mereka, yang sopan lagi menundukkan pandangan mereka terhadap suami-suami mereka, sopan lisan mereka dalam bertutur kata yang jauh dari perkataan yang buruk. Dalam ayat ini disebutkan yang menyampaikan kabar gem-bira, yang diberikan kabar gembira, dan apa-apa yang menjadi kabar gembira, serta sebab-sebab yang menyampaikan kepadanya. Yang menyampaikan kabar gembira itu adalah Rasulullah ﷺ atau umatnya yang berada dalam posisinya, dan penerima kabar gem-bira adalah orang-orang yang beriman yang beramal shalih, se-dangkan hal yang menjadi kabar gembira itu adalah surga-surga yang telah disebutkan sifat-sifatnya, dan sebab-sebab yang menyam-paikan kepadanya adalah keimanan dan amal shalih, karena tidak ada jalan lain yang menyampaikan kepada berita gembira itu ke-cuali dengan kedua sebab tersebut. Ini merupakan kabar gembira terbesar yang diucapkan oleh semulia-mulia makhluk dengan se-baik-baik faktor penyebabnya. Ayat ini juga menunjukkan sunnah-nya memberikan kabar gembira bagi kaum Mukminin dan mem-bangkitkan semangat mereka untuk beramal lebih giat yaitu dengan menyebutkan balasan perbuatan mereka dan hasilnya, karena dengan hal tersebut perbuatan akan lebih mudah dan ringan. Dan sebesar-besar berita gembira bagi seorang manusia adalah taufik-Nya kepada keimanan dan amal shalih, dan hal tersebut merupa-kan awal dan asal dari berita gembira, dan yang setelahnya adalah berita gembira ketika mati, dan yang setelahnya adalah sampai kepada kenikmatan tersebut yang abadi. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.