پرش به محتوا
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Baqara
سورهٔ ۲

Al-Baqara

این ترجمهٔ تفسیر سعدی است، همان‌گونه که IslamHouse.com آن را در saadi.islamenc.com منتشر می‌کند و از صفحه‌های آن سایت گرفته شده است. سایت نمی‌گوید چه کسی آن را ترجمه کرده و از کدام چاپ پیروی می‌کند، و برای برداشتن متن آن شرطی بیان نمی‌کند، پس حق نمایش آن تأیید نشده است. کسی آن را با کتاب چاپی مقایسه نکرده و عالمی آن را بررسی نکرده است. هر بخش در کنار آیه‌هایی آمده که دربارهٔ آن‌ها توضیح می‌دهد و این آیه‌ها متن قرآن از Tanzil است، همان‌گونه که آنجا هست؛ آیه‌ای که سایت توضیح جداگانه‌ای برایش نمی‌دهد با بخش پیش از خود می‌آید، و فهرست هر چنین آیه‌ای را نام می‌برد. سبیل چیزی از آن را ننوشته و ترجمه نکرده است.

متن ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)برداشته‌شده در 2026-10-22

آیهٔ ۱۵۶

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ۱۵۶

(156) ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ ﴿ "Yaitu orang-orang yang apabila di-timpa musibah," yaitu segala hal yang menyakitkan hati atau tubuh atau keduanya dari segala hal yang telah disebutkan sebelumnya, ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ ﴿ "mereka mengucapkan; 'Inna lillah'," maksudnya, kami ada-lah milik Allah yang diatur di bawah perintah dan kekuasaanNya, kami tak punya hak sedikit pun terhadap harta maupun diri kami sendiri. Bila Dia menguji kami dengan (mengambil atau memus-nahkan) sesuatu darinya, maka pada hakikatnya Dia Yang Maha Pengasih telah melakukan tindakan terhadap hamba-hamba milikNya dan harta-harta mereka. Oleh karena itu tidak perlu ada gugatan sama sekali terhadap semua itu. Bahkan termasuk kesem-purnaan penghambaan seorang hamba adalah pengetahuannya bahwa terjadinya suatu cobaan itu adalah dari Yang Maha Memiliki lagi Mahabijaksana, yang mana Dia adalah Dzat yang paling Penga-sih terhadap hambaNya daripada diri hamba itu sendiri. Dengan demikian, hamba itu haruslah ridha terhadap Allah dan bersyukur kepadaNya atas pengaturanNya kepada sesuatu yang lebih baik bagi hambaNya, walaupun hamba itu sendiri tidak sadar akan hal tersebut. Dan keadaan bahwa kami ini milik Allah تعالى, bersama itu kami juga akan kembali kepadaNya pada Hari Kebangkitan nanti, lalu Dia akan membalas setiap perbuatan dari pelakunya. Bila kami bersabar dan hanya mengharap pahala di sisiNya, niscaya kami akan memperoleh ganjaran secara sempurna di sisiNya, namun bila kami tidak bersabar dan mencaci maki, niscaya kami tidak memiliki apa-apa kecuali hanya murka dan lenyapnya pahala. Keberadaan seorang hamba bahwa dia milik Allah dan akan kembali kepadaNya adalah faktor terbesar yang menyebabkan tumbuhnya kesabaran.