Al-Muminoon
یہ تفسیر السعدی کا ایک ترجمہ ہے جیسا IslamHouse.com اسے saadi.islamenc.com پر شائع کرتا ہے، اس سائٹ کے صفحات سے لیا گیا۔ سائٹ یہ نہیں بتاتی کہ اس کا ترجمہ کس نے کیا اور وہ کس چھپے ہوئے ایڈیشن کی پیروی کرتا ہے، اور اس کا متن لینے کی کوئی شرائط بیان نہیں کرتی، اس لیے اسے دکھانے کا حق تصدیق شدہ نہیں۔ کسی نے اسے چھپی ہوئی کتاب سے نہیں ملایا اور کسی عالم نے اس کا جائزہ نہیں لیا۔ ہر حصہ ان آیات کے ساتھ ہے جن پر وہ تبصرہ کرتا ہے، اور وہ آیات Tanzil کا قرآنی متن ہیں، جیسا وہاں ہے؛ جس آیت کی سائٹ اپنی الگ تفسیر نہیں دیتی وہ اپنے سے پہلے کے حصے کے ساتھ ہوتی ہے، اور فہرست ایسی ہر آیت کا نام لیتی ہے۔ سبیل نے اس میں سے کچھ نہیں لکھا اور نہ اس کا ترجمہ کیا۔
متن ماخوذ ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)2026-10-22 کو لیا گیا
قُل لِّمَنِ ٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ 84 سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ 85
(84-85) Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbelok arah dari Allah kepada sesembahan lain, sebagai pemberian hujjah kepada mereka melalui keyakinan yang mereka tetapkan dan akui, berupa tauhid rububiyah dan hak kepemilikan Allah atas tauhid itu secara prero-gatif (ditujukan) pada pengingkaran mereka terhadap tauhid ulu-hiyah dan ibadah, dan (pemberian hujjah) melalui penetapan mereka mengenai penciptaan segala makhluk yang besar (ditujukan) pada pengingkaran mereka tentang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati yang hal ini lebih mudah dilakukan daripada itu. ﴾ لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ ﴿ "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya." Maksudnya siapakah yang menciptakan bumi dan segala makhluk yang berada di atas permukaannya, berupa hewan, tumbuhan, benda mati, lautan, sungai-sungai dan gunung-gunung, Dzat Yang Memiliki dan Mengaturnya? Sesungguhnya bila engkau menanyai mereka tentang masalah itu, mereka pasti menyatakan, "Allah semata." Jika mereka mengaku ini, katakanlah kepada mereka, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ingat?" Maksudnya, tidakkah kalian kembali kepada (pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang di-sembah) yang kalian sudah diingatkan oleh Allah, yang sudah dimaklumi bersama, sudah mapan dalam fitrah-fitrah kalian yang mana sikap berpaling dapat berpotensi menyembunyikannya pada waktu tertentu? Padahal, pada prinsipnya, jika kalian itu merujuk ingatan kalian hanya dengan perenungan saja, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang memilikinya, itulah Dzat yang patut disembah semata, sementara ketuhanan dari obyek yang berada dalam kepemilikan (mamluk) merupakan ketuhanan yang paling batil.