İçeriğe geç
Tafsir As-Saadi - Indonesian · An-Noor
Sure 24

An-Noor

Bu, as-Saʿdī’nin tefsirinin, IslamHouse.com’un saadi.islamenc.com adresinde yayımladığı hâliyle bir çevirisidir; o sitenin sayfalarından okunmuştur. Site, kimin çevirdiğini ya da hangi basılı neşri izlediğini söylemez ve metnini almak için hiçbir şart belirtmez; bu yüzden bunu gösterme hakkı doğrulanmamıştır. Kimse bunu basılı bir kitapla karşılaştırmadı ve hiçbir âlim gözden geçirmedi. Her bölüm, yorumladığı âyetlerin yanında durur; bu âyetler Tanzil’in Kur’ân metnidir, orada olduğu gibi gösterilir; sitenin kendine ait bir yorum vermediği bir âyet kendisinden önceki bölümle birlikte durur ve dizin böyle her âyeti adıyla anar. Sabīl bunun hiçbirini yazmamış ve çevirmemiştir.

Metin kaynağı:saadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)2026-10-22 tarihinde alındı

Ayet 11

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ 11

Ketika secara umum telah disebutkan besarnya persoalan tuduhan berzina, maka penjelasan itu menjadi pembuka kisah ini yang menimpa wanita yang (termasuk) paling mulia, Ummul Mukminin (Aisyah) i. Ayat-ayat ini turun pada peristiwa ifki (dusta) yang sudah terkenal, termuat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan dan Musnad.[14] Intinya, Nabi pada sebagian peperangan pergi bersama istrinya Aisyah, seorang wanita yang jujur, putri seorang yang jujur (Abu Bakar ash-Shiddiq). Kalung Aisyah hilang, maka dia pun (sibuk) berkutat untuk mencarinya. Sementara orang-orang telah memberangkatkan tunggangan dan sekedup yang ada di atasnya, tanpa merasa kehilangan Aisyah. Tentara pun terus berlalu. Kemudian Aisyah kembali ke tempat asalnya, dan yakin apabila mereka (pasukan kaum Muslimin) tidak mendapatkannya, maka mereka akan kembali (ke tempatnya). Mereka ternyata melanjutkan perjalanan. Sementara Shafwan bin al-Mu`aththal as-Sulami (termasuk pemuka sahabat), istirahat di belakang rombongan dan tertidur, lantas melihat Aisyah dan mengenalnya. Lalu dia merendahkan tunggangannya, dan Aisyah pun menaikinya tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua. Kemudian dia datang dengan menuntun untanya, setelah para tentara istirahat di siang hari. Tatkala sebagian orang munafik yang menyertai Nabi dalam perjalanan ini menyaksikan kedatangan Shafwan dalam kondisi demikian (bersama Aisyah), maka mereka menyebarkan isu hingga berkembang, menghembuskan pembicaraan, hingga mereka pun saling menyampaikan pembicaraan ini (kepada yang lain). Sampai berakibat sebagian kaum Mukminin terpengaruh, (bahkan) menjadi buah bibir mereka. Wahyu pun tak kunjung datang kepada Rasu-lullah dalam jangka waktu yang lama. Setelah beberapa waktu, barulah berita ini sampai kepada Aisyah. Dia sangat sedih sekali. Akhirnya, Allah menurunkan (ayat tentang) kesucian dirinya dengan turunnya ayat-ayat ini, memberikan nasihat kepada kaum Mukminin dan menganggap besar persoalan ini, serta menyampaikan pesan-pesan yang sangat bermanfaat.

(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.