Ruka hadi kwenye maudhui
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Ghaafir
Sura ya 40

Al-Ghaafir

Hii ni tarjama ya tafsiri ya as-Saʿdī kama IslamHouse.com inavyoichapisha katika saadi.islamenc.com, iliyosomwa kutoka kurasa za tovuti hiyo. Tovuti haisemi ni nani aliyeitafsiri kwa lugha nyingine wala inafuata toleo gani lililochapishwa, na haitaji masharti ya kuchukua matini yake, kwa hiyo haki ya kuionyesha haijathibitishwa. Hakuna aliyeilinganisha na kitabu kilichochapishwa, na hakuna mwanazuoni aliyeihakiki. Kila kifungu kipo kando ya aya inazozifafanua, ambazo ni matini ya Qur’ani ya Tanzil, inavyoonekana huko; aya ambayo tovuti haitoi ufafanuzi wake yenyewe inakaa pamoja na kifungu kilichotangulia, na faharasa inataja kila aya ya aina hiyo. Sabīl haikuandika wala kutafsiri kwa lugha nyingine chochote kati yake.

Maandishi kutokasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)ilichukuliwa 2026-10-22

Aya ya 29

يَـٰقَوْمِ لَكُمُ ٱلْمُلْكُ ٱلْيَوْمَ ظَـٰهِرِينَ فِى ٱلْأَرْضِ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأْسِ ٱللَّهِ إِن جَآءَنَا ۚ قَالَ فِرْعَوْنُ مَآ أُرِيكُمْ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ 29

(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.