Ruka hadi kwenye maudhui
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Anbiyaa
Sura ya 21

Al-Anbiyaa

Hii ni tarjama ya tafsiri ya as-Saʿdī kama IslamHouse.com inavyoichapisha katika saadi.islamenc.com, iliyosomwa kutoka kurasa za tovuti hiyo. Tovuti haisemi ni nani aliyeitafsiri kwa lugha nyingine wala inafuata toleo gani lililochapishwa, na haitaji masharti ya kuchukua matini yake, kwa hiyo haki ya kuionyesha haijathibitishwa. Hakuna aliyeilinganisha na kitabu kilichochapishwa, na hakuna mwanazuoni aliyeihakiki. Kila kifungu kipo kando ya aya inazozifafanua, ambazo ni matini ya Qur’ani ya Tanzil, inavyoonekana huko; aya ambayo tovuti haitoi ufafanuzi wake yenyewe inakaa pamoja na kifungu kilichotangulia, na faharasa inataja kila aya ya aina hiyo. Sabīl haikuandika wala kutafsiri kwa lugha nyingine chochote kati yake.

Maandishi kutokasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)ilichukuliwa 2026-10-22

Aya 32–33

وَجَعَلْنَا ٱلسَّمَآءَ سَقْفًا مَّحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ ءَايَـٰتِهَا مُعْرِضُونَ 32 وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ 33

(32-33) ﴾ وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا ﴿ "Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap," bagi bumi yang kalian berada di atasnya ﴾ مَّحۡفُوظٗاۖ ﴿ "yang ter-pelihara," dari kerobohan, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap." (Fathir: 41), juga terlindungi dari pencurian pendengaran yang dilakukan oleh setan-setan ﴾ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ 32 ﴿ "sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya," maksudnya, lalai dan lupa diri. Ini umum sifatnya pada semua tanda-tanda kebesaran Allah yang berada di langit, berupa ketinggian, keluasan, kebesaran, dan warnanya yang elok serta keharmonisannya yang mengagumkan dan panorama-panorama lainnya. Di dalamnya, terdapat planet-planet yang statis dan yang beredar, matahari dan bulannya yang terang benderang yang mengakibatkan terjadinya malam dan siang, dan sifat keberadaannya yang senantiasa beredar di dalam porosnya. Begitu pula, bintang-bintang yang memunculkan keman-faatan bagi umat manusia, karena berpengaruh atas kemunculan cuaca panas, dingin, dan (pergantian) musim-musim dalam seta-hun. (Dengan itu) mereka pun menjadi tahu mengenai perhitungan waktu-waktu ibadah dan muamalah mereka. Di malam hari, mereka beristirahat, merasakan ketenangan dan ketentraman. Di siang harinya, mereka bertebaran dan mencari penghidupan. Semua perkara ini bila direnungi oleh seseorang yang cerdas dan memandangnya dengan cermat, niscaya dia akan yakin dengan seyakin-yakinnya tanpa ada keraguan apa pun bahwasanya Allah-lah yang mengaturnya berdasarkan ketentuan-ketentuan waktu pada tempo yang sudah dicanangkan sampai batas akhir yang pasti. Pada rentang waktu itu, manusia memenuhi hajat-hajatnya, dan kemanfaatan mereka terpenuhi dengannya. Tujuannya, supaya mereka dapat bersenang-senang dan memperoleh kemaslahatan. Setelah itu, (berbagai hal tadi) akan sirna dan lenyap. Dzat yang melenyapkannya adalah Dzat yang telah menciptakannya. Dan yang akan menjadikannya diam tidak bergerak adalah Dzat yang telah menggerakkannya. Orang-orang mukallaf akan berpindah dari tempat tinggal mereka menuju tempat lain. Di sana, mereka akan menjumpai balasan amal mereka (di dunia) secara penuh dan lengkap. Sehingga dapat diketahui bahwa kegunaan tempat ini (dunia) sebagai ladang (amalan) untuk membidik tempat hunian abadi (di akhirat), dan bahwa dunia hanya merupakan lintasan perjalanan seseorang, bukan tempat huniannya.