Al-Anbiyaa
Hii ni tarjama ya tafsiri ya as-Saʿdī kama IslamHouse.com inavyoichapisha katika saadi.islamenc.com, iliyosomwa kutoka kurasa za tovuti hiyo. Tovuti haisemi ni nani aliyeitafsiri kwa lugha nyingine wala inafuata toleo gani lililochapishwa, na haitaji masharti ya kuchukua matini yake, kwa hiyo haki ya kuionyesha haijathibitishwa. Hakuna aliyeilinganisha na kitabu kilichochapishwa, na hakuna mwanazuoni aliyeihakiki. Kila kifungu kipo kando ya aya inazozifafanua, ambazo ni matini ya Qur’ani ya Tanzil, inavyoonekana huko; aya ambayo tovuti haitoi ufafanuzi wake yenyewe inakaa pamoja na kifungu kilichotangulia, na faharasa inataja kila aya ya aina hiyo. Sabīl haikuandika wala kutafsiri kwa lugha nyingine chochote kati yake.
Maandishi kutokasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)ilichukuliwa 2026-10-22
أَمِ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا۟ بُرْهَـٰنَكُمْ ۖ هَـٰذَا ذِكْرُ مَن مَّعِىَ وَذِكْرُ مَن قَبْلِى ۗ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ٱلْحَقَّ ۖ فَهُم مُّعْرِضُونَ 24
(24) Setelah itu, Allah kembali merendahkan penilaian terhadap kondisi orang-orang kafir saat mereka memposisikan sesembahan lain selain Allah. Maka, Allah berfirman untuk mem-buruk-burukkan dan menggertak mereka,﴾ أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡۖ ﴿ "Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainnya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu'," yaitu hujjah dan bukti kalian yang me-nunjukkan kebenaran pandangan-pandangan kalian. Mereka tidak akan menemukan satu cara pun. Justru, bukti-bukti yang pasti tegak membuktikan kebatilannya. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا ذِكۡرُ مَن مَّعِيَ وَذِكۡرُ مَن قَبۡلِيۚ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku," maksudnya kitab-kitab dan aturan-aturan syariat ilahi telah bersesuaian mengenai keakuratan perkataan yang aku sampaikan kepada kalian tentang kebatilan syirik. Lihatlah, ini Kitab Allah yang di dalamnya terdapat kete-tapan segala sesuatu yang berdasarkan dalil-dalil logika maupun naqliyah. Lihatlah, kitab-kitab (Allah) sebelum al-Qur`an, semuanya merupakan petunjuk dan bukti penguat apa yang aku katakan. Ketika sudah diketahui, telah tegak hujjah dan petunjuk bagi me-reka yang menunjukkan kebatilan asumsi mereka, maka diketahui bahwa mereka tidak mempunyai satu bukti pun. Pasalnya, petun-juk yang tegas telah meneguhkan tidak adanya penantang bagi Allah. Kalau tidak demikian, maka petunjuk tersebut belum kokoh. Seandainya terdapat penentangan-penentangan, itu tiada lain ha-nyalah lontaran-lontaran syubhat yang tidak mampu menangkis kebenaran sedikit pun. Firman Allah, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّۖ ﴿ "Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui al-haq," maksudnya mereka tetap berkutat dengan pegangan mereka sebagai bentuk sikap taklid kepada para pendahulu mereka. Mereka mendebat tanpa ilmu (yang benar) dan petunjuk. Ketidaktahuan mereka tentang kebenaran bukan lantaran tersembunyi atau ketidakjelasan kebenaran tersebut. Tetapi, tidak lain terdorong oleh antipati mereka terhadap kebenaran. Apabila tidak demikian, seandainya mereka menolehkan kepala ke arahnya sedikit saja, niscaya kebenaran akan menjadi jelas bagi mereka, ber-beda dengan kebatilan dengan perbedaan yang sangat signifikan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَهُم مُّعۡرِضُونَ 24 ﴿ "Karena mereka berpaling."