Taa-Haa
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ ٱلْأَرْضَ وَٱلسَّمَـٰوَٰتِ ٱلْعُلَى 4
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.