Al-Israa
Ini ialah terjemahan Tafsir as-Saʿdī seperti yang diterbitkan oleh IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca daripada halaman-halaman laman itu. Laman itu tidak menyatakan siapa yang menterjemahkannya atau edisi cetakan mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan syarat untuk mengambil teksnya, maka hak untuk memaparkannya belum disahkan. Belum ada sesiapa yang membandingkannya dengan buku bercetak, dan tiada ulama yang menyemaknya. Setiap bahagian berada di sisi ayat-ayat yang diulasnya, iaitu teks Al-Quran daripada Tanzil, dipaparkan seperti yang ada di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh laman itu berada bersama bahagian sebelumnya, dan indeks menamakan setiap ayat sedemikian. Sabīl tidak menulis atau menterjemahkan satu pun daripadanya.
Teks daripadasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil pada 2026-10-22
سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ 1
(1) Allah تعالى menyucikan dan mengagungkan diriNya, ka-rena Dia memiliki perbuatan-perbuatan dan aneka karunia yang agung. Termasuk dalam kategori itu adalah bahwa Dia ﴾ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ ﴿ "yang telah memperjalankan hambaNya," yaitu RasulNya, Muhammad ﴾ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ ﴿ "dari Masjidil Haram," masjid yang paling agung secara mutlak ﴾ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ﴿ "ke Masjidil Aqsha," sebuah masjid yang termasuk kategori masjid-masjid yang utama dan tempat (pusat) para nabi. Beliau diperjalankan dalam satu malam melintasi jarak yang sangat jauh, dan kembali pada malam itu juga. Allah menun-jukkan tanda-tanda kebesaranNya kepada beliau, yang menyebab-kan beliau mendapatkan tambahan petunjuk, kekuatan bashirah, ketetapan hati serta pembeda (antara yang benar dan batil). Peristiwa ini menunjukkan perhatian dan kelembutan Allah تعالى terhadap Nabi, lantaran Dia memberikan kemudahan dalam se-luruh urusan serta melimpahkan karunia-karuniaNya kepada beliau hingga mengungguli orang-orang terdahulu dan generasi yang akan datang dengannya. Zahirnya ayat menunjukkan bahwa, peristiwa Isra` terjadi pada permulaan malam dan sejak dari tempat Masjidil Haram itu sendiri. Akan tetapi, telah disebutkan dalam kitab ash-Shahih bahwa-sanya Rasulullah memulai perjalanan Isra` dari rumah Ummu Hani'[20]. Berdasarkan ini maka keutamaan Masjidil Haram berlaku untuk seluruh tanah Haram. Di setiap tanah Haram, (pahala) beribadah akan berlipatganda sebagaimana pelipatgandaan (pahala) ibadah di dalam Masjidil Haram. (Selain itu), ayat ini menunjukkan bahwasanya peristiwa Isra` (dan Mi'raj) berlangsung dengan ruh dan jasad Nabi sekaligus. Karena jika tidak demikian, maka kejadian ini bukanlah termasuk tanda kebesaran yang besar dan keistimewaan yang agung. Begitu banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi berkaitan dengan peristiwa Isra` (dan Mi'raj)[21]. Nabi menerangkan secara rinci kejadian-kejadian yang telah beliau lihat, dan bahwasanya beliau diperjalankan di malam hari menuju Baitul Maqdis, kemudian di-naikkan dari sana menuju langit-langit hingga sampai pada permu-kaan atas langit yang tertinggi. Beliau telah menyaksikan surga dan neraka, (bertemu dengan) sejumlah Nabi sesuai dengan kedudukan mereka, lantas ditetapkan atas beliau kewajiban shalat lima puluh waktu (dalam sehari semalam). Atas arahan dari Nabi Musa al-Kalim, beliau berbolak-balik kepada Rabbnya (untuk meminta ke-ringanan) hingga menjadi lima kali waktu secara perbuatan, dan menjadi 50 dalam pahala dan balasannya. Beliau dan umatnya telah meraih sumber-sumber kebanggaan di malam itu, yang tidak ada yang mengetahui kadarnya kecuali Allah تعالى. Allah menyebut Mu-hammad di sini dan di dalam kesempatan menurunkan al-Qur`an dan di tempat penentangan sifat 'ubudiyyah. Lantaran Rasulullah telah meraih kedudukan-kedudukan yang tinggi ini melalui penyem-purnaan penghambaan beliau kepada Rabbnya. Dan Firman Allah تعالى, ﴾ ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ ﴿ "Yang telah Kami berkahi sekelilingnya," dengan pepohonan yang banyak dan sungai-sungai dan kesuburan yang langgeng. Di antara keberkahan (Masjidil Aq-sha) adalah pengutamaan Masjid ini dibandingkan masjid-masjid lainnya selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan bahwasanya dituntut untuk memaksakan bepergian ke masjid-masjid ini semata-mata untuk beribadah dan shalat di dalamnya. Dan bahwa Allah telah mengkhususkan tempat ini bagi kebanyakan para nabi dan orang-orang pilihanNya.