An-Najm
Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.
Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ 3 إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ 4
(3-4) ﴾ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ﴿ "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya," yakni, ucapannya bukan-lah berdasarkan hawa nafsunya. ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ﴿ "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," artinya, ia hanya mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah سبحانه وتعالى untuk Rasul-Nya a, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah menurunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah." (An-Nisa`: 113). Muhammad a terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah سبحانه وتعالى dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.