Langsung ke konten
Tafsir As-Saadi - Indonesian · An-Najm
Surah 53

An-Najm

Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.

Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22

Ayat 11–12

مَا كَذَبَ ٱلْفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ 11 أَفَتُمَـٰرُونَهُۥ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ 12

(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu. Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.