Langsung ke konten
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Adh-Dhaariyat
Surah 51

Adh-Dhaariyat

Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.

Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22

Ayat 38

وَفِى مُوسَىٰٓ إِذْ أَرْسَلْنَـٰهُ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ بِسُلْطَـٰنٍ مُّبِينٍ 38

PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.

(38) ﴾ وَفِي مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda ke-kuasaan Allah)," dan apa yang dititahkan Allah ketika mengutusnya kepada Fir'aun dan kaumnya, berupa ayat-ayat yang jelas serta mukjizat-mukjizat yang nyata, merupakan tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى bagi mereka yang takut akan siksaan yang pedih.