Langsung ke konten
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Ash-Shura
Surah 42

Ash-Shura

Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.

Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22

Ayat 27

وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ 27

(27) Kemudian Allah menjelaskan bahwa di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya adalah Dia tidak melimpah-kan dunia (harta benda) kepada mereka dengan pelimpahan yang dapat merusak agama mereka, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi," artinya, niscaya mereka lalai dari ketaatan kepada Allah dan tenggelam dalam menikmati syahwat kehidupan dunia. Jadi, hal itu pasti mem-buat mereka sibuk dengan apa-apa yang disenangi oleh nafsu me-reka sekalipun berupa maksiat dan kezhaliman. ﴾ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran," menurut tuntutan kelembutan dan hikmahNya. ﴾ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat," sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat (hadits Qudsi) bahwasanya Allah سبحانه وتعالى berfirman, إِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الصِّحَّةُ، وَلَوْ أَمْرَضْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْمَرْضُ، وَلَوْ عَافَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، إِنِّيْ أُدَبِّرُ أَمْرَ عِبَادِيْ بِعِلْمِيْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، إِنِّيْ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ. "Sesungguhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kekayaan, dan kalau seandainya Aku jadikan ia fakir (miskin), niscaya kefakiran itu merusaknya. Dan sesung-guhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kefakiran, kalau sekiranya Aku menjadikannya kaya, niscaya kekayaan itu merusaknya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak akan bisa memperbaiki imannya kecuali kesehatan, dan kalau sekiranya Aku menjadikannya sakit, niscaya penyakit itu merusak-nya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memper-baiki imannya kecuali sakit, kalau sekiranya Aku menjadikannya sehat, niscaya ia merusaknya. Sesungguhnya Aku mengatur urusan hamba-hambaKu berdasarkan pengetahuanKu terhadap apa yang ada di dalam hati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui lagi Maha Melihat."[86]