Saba
Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.
Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22
قُلْ أَرُونِىَ ٱلَّذِينَ أَلْحَقْتُم بِهِۦ شُرَكَآءَ ۖ كَلَّا ۚ بَلْ هُوَ ٱللَّهُ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ 27
(27) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai rasul, dan wahai orang yang mewakilimu, ﴾ أَرُونِيَ ٱلَّذِينَ أَلۡحَقۡتُم بِهِۦ شُرَكَآءَۖ ﴿ "Perlihat-kanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan denganNya sebagai sekutu-sekutu," maksudnya, di mana mereka? Di mana jalan untuk mengenal mereka? Apakah mereka ada di bumi atau di langit? Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib dan nyata telah menginformasikan kepada kami, bahwa di dalam wujud (alam semesta ini) ia sama sekali tidak mempunyai seorang sekutu pun, ﴾ وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ ﴿ "Dan mereka menyembah selain dari Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.' Katakanlah, 'Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya?'" (Yunus: 18). ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ 66 ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Tidaklah mereka mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga." (Yunus: 66). Demikian pula orang-orang istimewa dari makhlukNya, yaitu para nabi dan para rasul, mereka tidak mengetahui adanya sekutu bagiNya. Maka, wahai sekalian kaum musyrikin, perlihat-kanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kalian hubungkan dengan Allah sebagai sekutu-sekutuNya menurut klaim palsu kalian! Permintaan ini tidak mungkin mereka penuhi, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ كـَلَّاۚ ﴿ "Sekali-kali tidak mungkin." Maksudnya, Allah sama sekali tidak mempunyai sekutu, tandingan dan lawan. ﴾ بَلۡ هُوَ ٱللَّهُ ﴿ "Sebenarnya Dia-lah Allah" yang tidak ada yang berhak disembah dan diibadahi, kecuali Dia ﴾ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "yang Mahaperkasa" yang mengalahkan segala sesuatu. Maka segala sesuatu, semuanya dikendalikan, dikalahkan dan ditundukkanNya. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Lagi Mahabijaksana," yang menciptakan dengan sangat rapi dan membuat indah apa yang diciptakanNya, dan sangat baik apa yang disyariat-kanNya. Kalaupun tidak ada dalam hikmah syariatnya kecuali hanya (pertama) perintah mengesakanNya dan mengikhlaskan kepatuhan (agama) hanya kepadaNya dalam keadaan mencintai hal ini dan menjadikannya sebagai jalan keselamatan, dan (kedua) larangan berbuat syirik dan mengambil sembahan-sembahan selain Dia, serta menjadikan hal ini sebagai jalan kesengsaraan dan kebi-nasaan, maka hal ini sudah sangat cukup untuk menjadi argumen (bukti) atas kesempurnaan hikmah (kebijaksanaan)Nya; lalu bagai-mana dengan keadaan syariat di mana seluruh yang Dia perintah-kan dan apa yang Dia larang mencakup hikmah?