Langsung ke konten
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Baqara
Surah 2

Al-Baqara

Ini adalah terjemahan Tafsir as-Saʿdī sebagaimana diterbitkan IslamHouse.com di saadi.islamenc.com, dibaca dari halaman-halaman situs itu. Situs itu tidak menyebutkan siapa yang menerjemahkannya maupun edisi cetak mana yang diikutinya, dan tidak menyatakan ketentuan untuk mengambil teksnya, sehingga hak untuk menampilkannya belum diverifikasi. Belum ada yang membandingkannya dengan buku cetak, dan belum ada ulama yang meninjaunya. Setiap bagian berdiri di samping ayat-ayat yang diulasnya, yaitu teks Al-Qur’an dari Tanzil, ditampilkan sebagaimana adanya di sana; ayat yang tidak diberi ulasan tersendiri oleh situs itu berdiri bersama bagian sebelumnya, dan indeks menyebutkan setiap ayat semacam itu. Sabīl tidak menulis atau menerjemahkan satu pun darinya.

Teks darisaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)diambil 2026-10-22

Ayat 13

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَـٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ 13

(13) Maksudnya, bila dikatakan kepada orang-orang muna-fik, ﴾ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ ﴿ "Berimanlah seperti orang-orang beriman," yakni seperti berimannya para sahabat رضي الله عنهم, yaitu keimanan dengan hati dan lisan, maka mereka berkata dengan sangkaan mereka yang batil, ﴾ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ ﴿ "Apakah kami akan beriman seperti berimannya orang-orang yang bodoh itu?" Maksud mereka -semoga Allah mem-burukkan mereka- adalah para sahabat رضي الله عنهم, karena dugaan mereka bahwasanya kebodohan mereka yang menyebabkan mereka untuk beriman, meninggalkan negeri, dan memusuhi kaum kafir, se-dangkan akal menurut mereka adalah berlawanan dengan hal itu. Mereka menisbatkan para sahabat kepada kebodohan, dan kan-dungan statemen tersebut adalah bahwa merekalah orang-orang yang pintar (cendekiawan) yang memiliki kecerdasan dan pikiran yang matang. Maka Allah membalas mereka dan mengabarkan kepada mereka bahwasanya merekalah orang-orang bodoh yang sebenarnya, karena hakikat kebodohan itu adalah ketidaktahuan seorang manusia kepada kemaslahatan pribadinya dan perbuatan-nya yang yang melakukan apa-apa yang justru memudaratkannya. Hal inilah yang terbukti terjadi pada mereka (dan terjadi benar atas mereka), sebagaimana juga akal dan kecerdasan itu adalah pengetahuan seorang manusia kepada hal yang bermanfaat bagi dirinya dan berbuat apa yang berguna untuknya serta menghindar dari apa yang memudaratkan dirinya, dan inilah yang terbukti ter-jadi pada para sahabat رضي الله عنهم dan kaum Mukminin. Maka patokannya adalah dengan ciri yang menempel pada diri dan bukti, tidak hanya sekedar sangkaan dan perkataan kosong belaka.