Al-Anfaal
Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.
Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22
إِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَـٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ غَرَّ هَـٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمْ ۗ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 49
(49) ﴾ إِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya ber-kata," yakni keraguan dan syubhat dari orang-orang yang lemah iman terhadap orang-orang yang beriman ketika mereka pergi berperang dengan jumlah minim melawan orang-orang musyrik dengan jum-lah yang besar, ﴾ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمۡۗ ﴿ "Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya." Yakni agama yang mereka anut menggiring mereka ke medan perang ini yang mana mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memenangkannya. Orang-orang munafik itu mengatakannya untuk melecehkan orang-orang Mukmin dan meng-hina akal mereka padahal justru orang-orang munafik itulah –demi Allah– orang-orang yang bodoh akal dan pikirannya. Karena ke-imanan akan mewajibkan pemiliknya maju menghadapi perkara-perkara besar yang tidak dihadapi oleh pasukan-pasukan besar karena seorang Mukmin yang bertawakal kepada Allah yang me-ngetahui bahwa tidak ada daya, kekuatan, dan kemampuan bagi siapa pun kecuali dengan pertolongan Allah, dan seandainya selu-ruh makhluk bersepakat untuk memberi manfaat sedikit saja kepada seseorang, niscaya mereka tidak mampu melakukannya, begitu pula jika mereka bersepakat untuk memudaratkannya niscaya mereka tidak mampu memudaratkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis atasnya, dan dia mengetahui bahwa dia di atas kebena-ran, bahwa Allah تعالى Mahabijaksana lagi Maha Penyayang dalam semua takdir dan keputusanNya, maka dia tidak akan peduli de-ngan kekuatan dan jumlah yang dia hadapi, dia percaya diri kepada Rabbnya, tenang tanpa rasa takut dan cemas. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksa-na." Tak ada kekuatan yang dapat mengalahkannya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana", dalam keputusanNya.