Al-An'aam
Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.
Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22
وَإِذَا جَآءَتْهُمْ ءَايَةٌ قَالُوا۟ لَن نُّؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَآ أُوتِىَ رُسُلُ ٱللَّهِ ۘ ٱللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُۥ ۗ سَيُصِيبُ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ صَغَارٌ عِندَ ٱللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَمْكُرُونَ 124
(124) Para penjahat besar itu kukuh di atas kebatilannya dan menolak kebenaran yang dibawa oleh para Rasul karena ha-sad dan dengki, mereka berkata, ﴾ لَن نُّؤۡمِنَ حَتَّىٰ نُؤۡتَىٰ مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ رُسُلُ ٱللَّهِۘ ﴿ "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah," berupa kenabian dan kerasulan. Ini mengandung penentangan mereka kepada Allah, bangga terhadap diri mereka, sombong terhadap kebenaran yang Dia turunkan melalui para rasul, dan penolakan terhadap keutama-an dan kebaikan Allah, maka Allah menjawab tantangan mereka yang rusak. Dia menyatakan bahwa mereka tidak layak mendapat-kan kebaikan. Pada mereka tidak terdapat sesuatu yang bisa mem-buat mereka menjadi hamba-hamba Allah yang shalih. Apalagi menjadi nabi dan Rasul. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ ﴿ "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." Barangsiapa yang Allah mengetahuinya layak mendapatkannya, mampu menunaikan tanggung jawabnya, mempunyai segala sifat yang baik, dan terbebas dari segala akhlak yang tercela, maka Allah memberinya apa yang menjadi tuntutan hikmahNya, baik secara independen maupun menginduk, dan barangsiapa yang tidak de-mikian, maka Dia tidak akan meletakkan pemberianNya yang paling utama pada orang yang tidak kapabel dan tidak suci di sisiNya. Ayat ini mengandung dalil kesempurnaan hikmah Allah, ka-rena walaupun Dia Maha Pengasih, Maha Pemurah, Mahaluas KaruniaNya, namun Dia adalah Mahabijaksana, tidak meletakkan karuniaNya kecuali pada orang yang layak. Kemudian Allah meng-ancam orang-orang yang berbuat kejahatan. Dia berfirman,﴾ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ صَغَارٌ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah." Yakni kehinaan dan kenistaan, Allah menghinakan mereka akibat kesombongan mereka terhadap kebenaran.﴾ وَعَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا كَانُواْ يَمۡكُرُونَ ﴿ "Dan siksa yang keras itu disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." Maksudnya, disebabkan makar mereka, bukan karena Allah menzhalimi mereka.