Tsallaka zuwa abin da ke ciki
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Saba
Sura ta 34

Saba

Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.

Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22

Aya ta 3

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَا تَأْتِينَا ٱلسَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَـٰلِمِ ٱلْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَآ أَصْغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرُ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍ مُّبِينٍ 3

(3) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan keagunganNya melalui sifat-sifat yang Dia sandangkan pada diriNya; dan hal ini mengha-ruskan mengagungkan dan menyucikanNya serta beriman kepada-Nya, maka Dia menyebutkan bahwa di antara golongan-golongan manusia ada sekelompok manusia yang tidak menghargai Rabbnya dengan sebenar-benarnya dan tidak mengagungkanNya dengan pengagungan yang sebenarnya, malah mereka kafir kepadaNya dan mengingkari kekuasaanNya untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan adanya kiamat, dan dengan itu mereka menentang Rasul-rasulNya, seraya berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berkata," maksudnya, kafir kepada Allah, rasul-rasulNya dan ajaran yang mereka bawa. Maka disebabkan kekafiran itu, mereka berkata, ﴾ لَا تَأۡتِينَا ٱلسَّاعَةُۖ ﴿ "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami." Maksudnya, tidaklah kiamat itu melain-kan kehidupan dunia ini saja, kami mati dan hidup! Lalu Allah memerintah RasulNya untuk membantah per-kataan mereka dan mematahkannya serta bersumpah tentang kebangkitan, bahwa kebangkitan itu pasti akan datang kepada mereka. Dan untuk hal itu Dia berdalil (berargumen) dengan dalil bahwa siapa yang membenarkannya, maka dia harus membenar-kan kebangkitan dengan pasti, yaitu ilmu Allah سبحانه وتعالى yang Mahaluas lagi meliputi segala sesuatu, seraya berfirman, ﴾ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "yang mengetahui yang ghaib," maksudnya, perkara-perkara yang ghaib dari pandangan mata kita dan dari pengetahuan kita, maka bagai-mana dengan yang nampak? (Tentu Dia lebih mengetahuinya) kemudian Dia mengukuhkan ilmuNya serya berfirman, ﴾ لَا يَعۡزُبُ ﴿ "Tidak ada yang tersembunyi," maksudnya, tidak ada yang lepas dari pengetahuan Allah, ﴾ مِثۡقَالُ ذَرَّةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "seberat biji sawi pun yang ada di langit dan yang ada di bumi," maksudnya, segala sesuatu dengan raga dan bagian-bagiannya, hingga bagian yang terkecil dari bagian-bagian tersebut, yaitu serpihan-serpihannya, ﴾ وَلَآ أَصۡغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرُ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata." Maksudnya, semua telah diliputi oleh ilmuNya, telah dicatat oleh penaNya dan telah termuat di dalam KitabNya yang nyata, yaitu Lauh Mahfuzh. Maka, Tuhan yang tidak ada yang tersembunyi dari ilmuNya sebesar atom pun lalu yang lebih kecil darinya dalam sepanjang waktu, dan mengetahui yang berkurang dari bumi berupa mayat dan apa-apa yang tersisa dari jasad mereka itu Kuasa menghidup-kan kembali mereka adalah tentu lebih pasti, dan kebangkitan me-reka tidak lebih aneh daripada ilmu yang meliputi segala sesuatu ini.