Tsallaka zuwa abin da ke ciki
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Furqaan
Sura ta 25

Al-Furqaan

Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.

Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22

Aya ta 63

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَـٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَـٰمًا 63

Kemudian Allah menyebutkan di antara sejumlah kebaikan dan karunia atas hamba-hambaNya yang shalih dan taufikNya kepada mereka untuk bisa beramal shalih yang membuat mereka mampu meraih kedudukan tertinggi di istana surga, seraya berfir-man,

(63) Penghambaan kepada Allah itu ada dua: Pertama, penghambaan kepada rububiyahNya. Yang ini dimiliki oleh semua manusia, baik yang Muslim maupun yang kafir, yang shalih dan yang jahat. Jadi semua mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dan diatur; ﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿ "Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, melainkan pasti akan datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba." (Maryam: 93). Yang kedua, penghambaan kepada uluhiyahNya, peribadatan kepadaNya dan rahmatNya. Ini adalah penghambaan para nabi dan para waliNya. Inilah yang dimaksud di sini. Oleh karena itu, Allah mengimbuhkannya (abd) kepada namaNya, 'ar-rahman," sebagai isyarat bahwa mereka telah mencapai kepada kedudukan ini disebabkan rahmatNya. Kemudian Dia menjelaskan [bahwa] sifat-sifat mereka merupakan sifat yang paling sempurna dan karakter-karakter mereka merupakan karakter yang paling utama. Allah menyifati mereka (dengan ungkapan) bahwasanya mereka ﴾ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا ﴿ "berjalan di atas bumi dengan rendah hati," maksud-nya dengan tenang, merendahkan diri kepada Allah dan kepada manusia. Ini adalah pernyataan untuk sifat mereka, yaitu hikmat, tenang dan tawadhu' (merendahkan diri) kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ ﴿ "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka," dengan sapaan jahil; ini berdasarkan bukti pengimbuhan kata kerja dan penyandarannya kepada sifat tersebut, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "niscaya mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan," maksudnya mereka menjawab sapaan mereka dengan sapaan yang selamat dari dosa di dalamnya, dan mereka selamat dari balasan orang jahil dengan kejahilannya. Ini adalah pujian untuk mereka karena sikap santun mereka yang luar biasa, dan membalas orang yang jahat dengan kebaikan dan pemberian maaf terhadap si jahil, dan kematangan akal mereka yang telah mengantar mereka kepada tingkatan ini.