Ad-Dhuhaa
This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.
Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22
وَٱلضُّحَىٰ 1 وَٱلَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ 2 مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ 3
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.