Al-Ahzaab
This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.
Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ ءَاذَوْا۟ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُوا۟ ۚ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهًا 69
(69) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang ber-iman untuk tidak menyakiti Rasulullah, Muhammad a, nabi yang mulia lagi pengasih dan penyayang, agar mereka tidak membalas-nya dengan lawan dari sikap-sikap yang wajib, seperti memuliakan dan menghormati, dan hendaknya mereka tidak meniru perilaku orang-orang yang menyakiti Musa bin Imran, Kalim ar-Rahman. Lalu Allah membebaskannya dari apa yang mereka katakan. Maksud-nya, Allah menampakkan kepada mereka keselamatan (kebersihan) Musa darinya. Padahal (fakta) kondisinya Nabi Musa عليه السلام bukanlah tempat tuduhan (dialamatkan) atau untuk disakiti, karena mem-punyai kedudukan terhormat di sisi Allah, didekatkan kepadaNya, dan termasuk golongan Rasul yang istimewa dan termasuk hamba-hambaNya yang disucikan. Namun keutamaan-keutamaan yang dimilikinya tidak membuat mereka jera untuk menyakitinya dan mengganggunya dengan hal-hal yang tidak dia suka. Maka waspa-dalah wahai orang-orang yang beriman, agar tidak meniru mereka dalam hal ini. Gangguan yang dimaksud adalah ucapan Bani Israil tentang Nabi Musa saat mereka mengetahui sifat Nabi Musa yang sangat pemalu dan sangat menutup diri dari mereka, "Sesungguhnya tidak ada yang mencegahnya dari sikap yang demikian itu selain karena dia berpenyakit adar." Maksudnya, buah dzakar kemaluan-nya sangat besar membengkak, dan hal ini menyebar luas di ka-langan mereka. Maka Allah berkehendak membebaskannya dari tuduhan mereka, maka pada suatu hari beliau mandi dan beliau meletakkan pakaiannya di atas batu, kemudian batu itu mengge-linding membawa pakaian tersebut. Maka Musa pun mengejarnya untuk mengambil pakaiannya, dan batu itu pun terus membawa-nya hingga melintasi Majelis Bani Israil, sehingga mereka melihat-nya sebagai sebaik-baik ciptaan Allah. Maka sirnalah apa yang mereka tuduhkan kepadanya.[62]