Skip to content
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Ash-Shu'araa
Sūrah 26

Ash-Shu'araa

This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.

Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22

Verse 197

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ ءَايَةً أَن يَعْلَمَهُۥ عُلَمَـٰٓؤُا۟ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ 197

(197) ﴾ أَوَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ ءَايَةً ﴿ "Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka," atas kebenarannya, dan bahwa ia berasal dari Allah, ﴾ أَن يَعۡلَمَهُۥ عُلَمَٰٓؤُاْ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "bahwa para ulama Bani Isra`il mengetahuinya?" Yaitu orang-orang yang sudah mencapai puncak ilmu sehingga mereka menjadi manusia yang paling mengetahui (ulama), dan mereka adalah orang-orang yang adil. Sebab setiap sesuatu yang meng-alami ketidakjelasan tentangnya maka dikembalikan kepada ahli ilmu dan pengetahuan, sehingga pendapat mereka menjadi hujjah (argumen) terhadap orang-orang selain mereka; sebagaimana hal-nya para ahli sihir (yang menguasai ilmu sihir) mengetahui kebe-naran Mukjizat nabi Musa, bahwasanya ia bukan sihir. Maka per-kataan orang-orang bodoh sesudah itu tidak perlu dihiraukan lagi.