Al-Anbiyaa
This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.
Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22
وَأَدْخَلْنَـٰهُ فِى رَحْمَتِنَآ ۖ إِنَّهُۥ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ 75
(75) ﴾ وَأَدۡخَلۡنَٰهُ فِي رَحۡمَتِنَآۖ ﴿ "Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami," yang mana barangsiapa telah memasukinya, maka dia ter-masuk golongan orang-orang yang aman dari segala rasa takut, yang berhasil menggapai segenap macam kebaikan, kebahagiaan, kebajikan, dan kegembiraan, serta pujian. Hal demikian ini, lan-taran dia masuk dalam kalangan orang-orang shalih, yang amalan-amalan mereka telah baik, dan keadaan-keadaan jiwa mereka sudah suci, serta Allah telah memperbaiki orang yang rusak dari kalangan mereka. Keshalihan (jiwa dan amalan) itulah yang men-jadi faktor penyebab masuknya seorang hamba ke dalam rahmat Allah. Sebagaimana halnya, kerusakan (jiwa dan amalan) adalah faktor terhalanginya (seorang hamba) dari rahmat dan kebaikan dari-Nya. Orang yang paling besar keshalihannya, ialah para nabi k. Karena itu, Allah menyifati mereka dengan keshalihan. Sulaiman عليه السلام berkata, ﴾ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ 19 ﴿ "Dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih." (An-Naml:19).